Universitas Gunadarma

Universitas yang berbasis ilmu komputer dan teknologi informasi.

BAAK Gunadarma

Biro administrasi akademik dan kemahasiswaan di Universitas Gunadarma.

Wata Warga Universitas Gunadarma

Warta Warga adalah “UG Student Journalism” merupakan media publikasi berupa tulisan-tulisan dari mahasiswa UG yang dapat diunggah (upload) dari account UG Studentsite.

UGpedia

UGPEDIA merupakan suatu wadah sumbangsih bagi civitas akademika khususnya dan bagi masyarakat umumnya, disini anda dapat mencari dan memberi arah informasi yang berkaitan dengan Universitas Gunadarma, mulai dari pendaftaran, perkuliahan, alumni, prosedur-prosedur, fasilitas serta hal-hal yang berhubungan dengan istilah yang sering ditemui di lingkup pendidikan universitas.

Library Gunadarma

Perpustakaan Online Gundarma.

Pages

Wednesday, April 23, 2014

Konsepsi Ilmu Budaya Dasar Dalam Kesusastraan ( Review )

1.  Pengertian Kesusastraan

Sebelum kita mengetahui apa itu “Konsepsi Ilmu Budaya Dasar dalam Kesustraan” ada baiknya kita terlebih dahulu tahu apa itu kesusastraan / sastra.

Secara etimologi (menurut asal-usul kata) kesusastraan berarti karangan yang indah. “sastra” (dari bahasa Sansekerta) artinya : tulisan, karangan. Akan tetapi sekarang pengertian “Kesusastraan” berkembang melebihi pengertian etimologi tersebut. Kata “Indah” amat luas maknanya. Tidak saja menjangkau pengertian-pengertian lahiriah tapi terutama adalah pengertian-pengertian yang bersifat rohaniah. Misalnya, bukankah pada wajah yang jelak orang masih bisa menemukan hal-hal yang indah.

Sebuah cipta sastra yang indah, bukanlah karena bahasanya yang beralun-alun dan penuh irama. Ia harus dilihat secara keseluruhan: temanya, amanatnya dan strukturnya. Pada nilai-nilai yang terkandung di dalam ciptasastra itu.

Ada beberapa nilai yang harus dimiliki oleh sebuah ciptasastra. Nilai-nilai itu adalah : Nilai-nilai estetika, nilai-nilai moral, dan nilai-nilai yang bersifat konsepsionil. Ketiga nilai tersebut sesungguhnya tidak dapat dipisahkan sama sekali. Sesuatu yang estetis adalah sesuatu yang memiliki nilai-nilai moral. Tidak ada keindahan tanpa moral. Tapi apakah moral itu? Ia bukan hanya semacam sopan santun ataupun etiket belaka. Ia adalah nilai yang berpangkal dari nilai-nilai tentang kemanusiaan. Tentang nilai-nilai yang baik dan buruk yang universil. Demikian juga tentang nilai-nilai yang bersifat konsepsionil itu. Dasarnya adalah juga nilai tentang keindahan yang sekaligus merangkum nilai tentang moral.

Nilai-nilai estetika kita jumpai tidak hanya dalam bentuk (struktur) ciptasastra tetapi juga dalam isinya (tema dan amanat) nya. Nilai moral akan terlihat dalam sikap terhadap apa yang akan diungkapkan dalam sebuah ciptasastra cara bagaimana pengungkapannya itu. Nilai konsepsi akan terlihat dalam pandangan pengarang secara keseluruhan terhadap masalah yang diungkapkan di dalam ciptasastra yang diciptakan.

Sebuah ciptasastra bersumber dari kenyataan-kenyataan yang hidup di dalam masyarakat (realitas-objektif). Akan tetapi ciptasastra bukanlah hanya pengungkapan realitas objektif itu saja. Di dalamnya diungkapkan pula nilai-nilai yang lebih tinggi dan lebih agung dari sekedar realitas objektif. Ciptasastra bukanlah semata tiruan daripada alam (imitation of nature) atau tiruan daripada hidup (imitation of life) akan tetapi ia merupakan penafsiran-penafsiran tentang alam dan kehidupan itu (interpretation of life).

Sebuah ciptasatra mengungkapkan tentang masalah-masalah manusia dan kemanusian. Tentang makna hidup dan kehidupan. Ia melukiskan penderitaan-penderitaan manusia, perjuangannya, kasih sayang dan kebencian, nafsu dan segala yang dialami manusia. Dengan ciptasastra pengarang mau menampilkan nilai-nilai yang lebih tinggi dan lebih agung. Mau menafsirkan tentang makna hidup dan hakekat kehidupan.

Dapat saja sebuah ciptasastra menceritakan tentang kehidupan binatang, seperti misalnya karyasastra yang besar ‘Pancatanteran” atau “Hikayat Kalilah dan Daminah”, namun sebetulnya manusia. Jadi sesungguhnya karya tersebut tetap mengungkapkan kehidupan manusia akan tetapi ditulis perlambang-perlambang.

Sebuah ciptasasra yang baik, mengajak orang untuk merenungkan masalah-masalah hidup yang musykil. Mengajak orang untuk berkontemplasi, menyadarkan dan membebaskan dari segala belenggu-belenggu pikiran yang jahat dan keliru. Sebuah ciptasastra mengajak orang untuk mengasihi manusia lain. Bahwa nasib setiap manusia meskipun berbeda-beda namun mempunyai persamaan-persamaan umum, bahwa mereka ditakdirkan untuk hidup, sedang hidup bukanlah sesuatu yang gampang tapi penuh perjuangan dan ancaman-ancaman. Ancaman-ancaman yang datang dari luar maupun yang datang dari dalam (diri sendiri).

Bahwa kemanusiaan itu adalah satu, “ Mankind is one”, dan sama di mana-mana. Inilah yang diungkapkan dan ingin dikatakan kesusastraan. Alangkah besar dan luasnya, bukan?

Jika disimpulkan maka “kesusastraan” adalah merupakan pengungkapan dari fakta artistik dan imajinatif sebagai manifestasi kehidupan manusia (dan masyarakat) melalui bahasa sebagai medium dan punya efek yang positif terhadap kehidupan manusia (kemanusiaan).

Ada dua daya yang harus dimiliki oleh seorang pengarang. Yakni daya kreatif dan daya imajinatif. Daya kreatif adalah daya untuk memciptakan hal-hal yang baru dan asli. Manusia penuh dengan seribu satu kemungkinan tentang dirinya. Maka seorang pengarang berusaha memperlihatkan kemungkinan tersebut, memperlihatkan masalah-masalah manusia yang substil dan bervariasi dalam ciptasatra-ciptasatra yang ia tulis. Sedang daya imajinasi adalah kemampuan membayangkan dan mengkhayalkan serta menggambarkan sesuatu atau peristiwa-peristiwa. Seorang pengarang yang memiliki daya imajinasi yang kaya ialah apabila ia mampu memperlihatkan dan menggambarkan kemungkinan-kemungkinan kehidupan dan masalah-masalah serta pilihan-pilihan dari alternatif yang mungkin dihadapi manusia. Kedua daya itu akan menentukan berhasil tidaknya sebuah ciptasastra.

 

2.    Bentuk Kesusastraan Manusia dalam Kehidupan Sehari Hari

            Sebagai manusia kita kelak melakukan sosialisasi dimanapun dan kapanpun. Karena kita manusia diciptakan sebegai hal nya adalah makhluk social. Dimana kita tidak akan bisa menjalani kehidupan di dunia ini dengan sendiri atau individual, melainkan harus membutuhkan bantuan orang lain. Seperti halnya contoh kita tidak akan bisa menguburkan jasad kita sendiri.

            Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar istilah sastra atau karya sastra: prosa atau puisi. Dengan membaca karya sastra, kita akan mem­peroleh "sesuatu" yang dapat memperkaya wawasan dan/atau meningkatkan harkat hidup. Dengan kata lain, dalam karya sastra ada sesuatu yang ber­manfaat bagi kehidupan.     

                Karya sastra (yang baik) senantiasa mengandung nilai (value). Nilai itu di­kemas dalam wujud struktur karya sastra, yang secara implisit terdapat dalam alur, latar, tokoh, tema, dan amanat atau di dalam larik, kuplet, rima, dan irama. Nilai yang terkandung dalam karya sastra itu, antara lain, adalah sebagai ber­ikut:

 

1.      Nilai hedonik (hedonic value), yaitu nilai yang dapat memberikan kese­nangan secara langsung kepada pembaca;

2.      Nilai artistik (artistic value), yaitu nilai yang dapat memanifestasikan suatu seni atau keterampilan dalam melakukan suatu pekerjaan;

3.      Nilai kultural (cultural value), yaitu nilai yang dapat memberikan atau me­ngandung hubungan yang mendalam dengan suatu masya­rakat, peradaban, atau kebuda­yaan;

4.      Nilai etis, moral, agama (ethical, moral, religious value), yaitu nilai yang da­pat mem­berikan atau memancarkan petuah atau ajaran yang berkaitan de­ngan etika, moral, atau agama;

5.      Nilai praktis (practical value), yaitu nilai yang mengandung hal-hal praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan nyata sehari-hari.

 

3. Mind Map

 

4. Hasil Pemikiran

            Sesusastraan sudah menjadi hal yang mutlak dalam kehidupan manusia, contohnya adalah zaman Indonesia yang dulu dengan yang sekarang. Sebut saja jaman dahulu prosa lama dan jaman sekarang prosa baru. Itu bisa terlihat dari bahasa yang kita katakan sehari-sehari dan sekarang. Dahulu memanglah ia bahasa Indonesia sering berubah-ubah misalnya dari kata ‘oe’ menjadi ‘u’, tetapi jika dilihat dari segi perubahannya kata tersebut berubah-ubah sesuai factor dari dalam negeri kita sendiri, dan kata tersebut berubah demi kemajuan Indonesia dalam tata bahasa yang lebih baik. Tetapi jika dibandingkan dengan bahasa sekarang yaitu prosa baru, bagi saya kata-kata baru itu bukanlah masalah, tetapi yang menjadi masalah adalah kata baru yang menjauhkan kita dari bahasa Indonesia yang baik dan benar, kata yang bermasalah dan beracuan dengan kalimat negative, bahasa baru ini tidaklah terlalu baik untuk kita lanjutkan untuk perkembangan negeri, lalu bagaimanakah cara negeri ini maju jika kata yang kita pakai sehari-hari jauh dari cara bahasa yang berperikemanusian. Jikalau terus berlanjut siapa yang harus di salahkan ? lalu apa perannya Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa ? dan bagaimanakah menanggulanginya ? ..

 

5.    Referensi :

Makalah Kelompok  2  ( Konsepsi Ilmu Budaya Dasar dalam kesusastraan ), 1KA32, Universitas Gunadarma

http://nesaci.com/pengertian-kesusastraan-dan-jenis-jenis-kesusastraan/

http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/petunjuk_praktis/623

 

 

Tuesday, April 22, 2014

Manusia dan Kebudayaan ( Review )

1.    MANUSIA

 

Manusia  di alarn dunia  ini memegang  peranan  yang unik,  dan  dapat  dipandang  dari banyak segi. Dalarn ilmu eksakta, manusia dipandang  sebagai kumpulan  dari partikel-partikel atom  yang  membentuk  jaringan-jaringan   sistem  yang  dimiliki  oleh  manusia  (ilmu  kimia), manusia  merupakan  kumpulan  dari berbagai  sistem  fisik yang  saling  terkait  satu  sarna  lain dan  merupakan   kumpulan   dari  energi  (ilmu  Fisika),  manusia  merupakan   mahluk  biologis yang  yang  tergolong  dalam  golongan  mahluk  mamalia  (biologi).  Dalam  ilmu-ilmu   sosial, manusia merupakan  mahluk yang ingin memperoleh  keuntungan atau selalu memperhitungkan setiap kegiatan, sering disebut homo economicus (ilmu ekonomi). manusia merupakan  mahluk sosial  yang  tidak  dapat  berdiri  sendiri  (sosiologi).  mahluk  yang  selalu  ingin  mempunyai kekuasaan   (politik).  mahluk  yang  berbudaya,  sering  disebut  homo-humanus   (filsafat).  dan lain sebagainya.

Ada dua pandangan yang akan kita jadikan acuan untuk menjelaskan tentang unsur -unsur yang  membangun manusia

1.      Manusia  itu terdiri  dari empat  unsur  yang saling  terkait,  yaitu

a.       Jasad,  yaitu  : badan  kasar  manusia  yang  nampat  pada  luarnya,  dapat  diraba  dan difoto,  dan  menempati  ruang dan  waktu  

b.      hayat,  yaitu  : mengandung  unsur  hidup,  yang ditandai  dcngan  gerak

c.       ruh, yaitu : bimbingan  dan pimpinan  Tuhan, daya yang bekerja secara  spiritual  dan memahami   kebenaran,  suatu kemampuan  mencipta  yang  bcrsifat  konseptual   yang menjadi  pusat  lahirnya  kebudayaan

d.      nafs,  dalam  pengertian  diri atau keakuan,  yaitu kesadaran  tentang  diri sendiri

 

2.      Manusia sebagai satu kepribadian mengandung tiga unsur yaitu:

a.       Id, yang merupakan struktur kepribadian yang paling primitif dan paling tidak nampak, Id merupakan  libido  murni,  atau energi  psikis  yang menunjukkan   ciri alami  yang irrasional  dan terkait dengan sex, yang secara instingtual  menentukan  proses-proses ketidaksadaran   (unconcious).

 

b.      Ego, merupakan  bagian  atau struktur kepribadian  yang pertama  kali dibedakan  dari Id,  seringkali  disebut  sebagai  kepribadian   "eksekutif"   karena  peranannya   dalarn menghubungkan   energi Id ke dalam saluran sosial yang dapat dimengerti  oleh orang lain.

 

c.       Superego,  merupakan  struktur kepribadian  yang paling akhir, muncul  kita-kira  pada usia lima tahun. Dibandingkan  dengan Id dan ego, yang berkembang  secara internal dalam  diri  individu,  superego  terbentuk  dari  lingkungan  eksternal.  Jadi  superego merupakan  kesatuan  standar-standar  moral  yang  diterima  oleh  ego  dari  sejumlah agen yang mempunyai  otoritas  di dalam lingkungan  luar diri, biasanya  merupakan asimilasi  dari pandangan-pandangan   orang  tua. Baik aspek  negatif  maupun  positif dari  standar  moral  tingkah  laku  ini diwakilkan  atau  ditunjukkan oleh  superego.

 

Manusia adalah ciptaan sempurna dari Tuhan, dimana kita diberikan akal dan pikiran yang tidak dimiliki oleh hewan dan tumbuhan. Di samping itu manusia juga di bekali perasaan,beberapa ciri perasaa luhur yang ada di dalam diri manusia :

1.      Perasaan  intelektual. yaitu perasaan yang berkenaan dengan  pengetahuan. Seseorang merasa senang atau puas apabila ia dapat mengetahui sesuatu, sebaliknya tidak senang atau tidak puas apabila ia tidak berhasil mengetahui sesuatu.

2.      Perasaan  estetis.yaitu perasaan yang berkenan dengan keindahan. Seseorang merasa senang apabila ia melihat atau mendengarsesuatu yang indah, sebaliknya timbul perasaan kesal apabila tidak indah.

3.      Perasaan etis. yaitu perasaan yang berkenaandengan kebaikan.Seseorangmerasa senang apabila sesuatu itu baik, sebaliknya perasaan benci apabila sesuatu itu jahat.

4.      Perasaan  din.  yaitu perasaan yang berkenaan dengan harga diri karena ada kelebihan dari yang lain. Apabila seseorang memiliki kelebihan pada dirinya,  ia merasa tinggi, angkuh dan sombong, sebaliknya apabila ada  kekurangan pada dirinya ia merasa rendah diri (minder)

5.      Perasaan  sosial, yaitu perasaan yang berkenaan dengan kelompok atau korp atau hidup bermasyarakat, ikut merasakan kehidupan orang lain. Apabila orang berhasil, ia ikut senang, apabila orang gagal, memperoleh musibah, ia ikut sedih.

6.      Perasaan  religius, yaitu perasaan yang berkenaan dengan agama atau kepercayaan.

7.      Seseorang merasa tentram jiwanya apabila ia tawakal kepada Tuhan, yaitu mematuhi segala perintah - Nya dan menjauhi larangan - Nya.

 

2.    Kebudayaan

Apabila kita berbicara tentang kebudayaan,  maka kita langsung berhadapan  dengan pengertian istilahnya. Pengertian kebudayaan menyangkut bermacam-macam definisi yang telah dipikirkan oleh sarjana-sarjana bidang sosial budaya diseluruh dunia.

Dua orang  antropolog  terkemuka  yaitu  Melville  J.  Herkovits   dan  Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa Cultural Detirminism berarti segala sesuatu yang terdapat di  dalam masyarakat ditentukan adanya oleh kebudayaan yang dimiliki masyarakat itu. Herkovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang superorganic,  karena kebudayaan  yang turun temurun dari generasi ke generasi hidup terus. Walaupun orang-orang yang menjadi anggota masyarakat senantiasa silih berganti disebabkan kematian dan kelahiran. Pengertian kebudayaan meliputi bidang yang luasnya seolah-olah  tidak ada batasnya.  Dengan demikian sukar sekali  untuk mendapatkan pembatasan pengertian atau definisi yang tegas dan terinci yang mencakup segala sesuatu yang seharusnya termasuk dalam pengertian tersebut. Dalam pengertian sehari-hari istilah kebudayaan sering diartikan sama dengan kesenian, terutama seni suara dan seni tari.

Kebudayaan  jika dikaji dari asal kata bahasa sansekerta berasal dari kata budhayah yang berarti budi atau akal. Dalam  bahasa latin, kebudayaan berasal dari kata colere. yang berarti mengolah tanah. Jadi kebudayaan secara umum dapat diartikan "segala sesuatu yang dihasilkan oleh akal budi (pikiran) manusia dengan tujuan untuk mengolah tanah atau tempat atau tinggalnya dapat pula diartikan “segala usaha manusia untuk dapat melangsungkan dan mempertahankan hidupnya di dalam lingkungannys”. Budaya dapat pula diartikan sebagai himpunan pengalaman yang dipelajari, mengacu pada pola-pola perilaku yang ditularkan secara sosial, yang merupakan kekhususan kelompok sosial tertentu (Keesing, jilid I. 1989; hal 68).

Kebudayaan dengan demikian mencakup segala aspek kehidupan manusia, baik yang sifatnya material, seperti peralatan-peralatan kerja dan teknologi, maupun yang non-material, seperti nilai kehidupan dan seni-seni tertentu.

Seorang antropolog yaitu E.B.Tylor  ( 1871 ) mendefinisikan kebudayaan sebagai berikut:

Kebudayaan  adalah kompleks yang mencakup pengetahuan,  kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan kemampuan  lain serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat, Dengan perkataan lain kebudayaan mencakup kesemuanya yang didapatkan atau dipelajari oleh manusia sebagai anggota masyarakat.

Selo Sumarjan  dan Soelaeman Soemardi merumuskan kebudayaan  sebagai semua hasil karya,  rasa  dan cipta masyarakat.  Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan atau kebudayaan jasmaniah yang diperlukan oleh manusia untuk mcnguasai alam sekitamya, agar kekuatan serta hasilnya dapat diabdikan untuk masyarakat.

Rasa yang meliputi jiwa manusia, mewujudkan segala kaidah-kaidah dan nilai-nilai sosial yang perlu untuk mengatur masalah  masalah kemasyarakatan dalam arti yang luas. Didalamnya termasuk misalnya agama, ideologi, kebatinan,  kesenian dan semua unsur yang merupakan hasil  ekpresi jiwa manusia yang hidup  sebagai  anggota masyarakat.   Cipta merupakan kemampuan  mental. kemampuan  berpikir orang-orang  yang hidup bermasyarakat dan  yang  antara  lain menghasilkan   fllsafat  serta ilmu pengetahuan.

Sutan  Takdir  Alisyahbana  mengatakan bahwa kebudayaan adalah  manifestasi   dari cara  berpikir, hal ini amat luas apa yang disebut kebudayaan; sebab semua laku dan perbuatan tercakup di dalamnya,  dan  dapat  diungkapkan  pada basis  dan  cara  berpikir,  perasaan  juga maksud pikiran.

Koentjaraningrat mengatakan,  bahwa  kebudayaan  antara  lain  berarti   keseluruhan gagasan     dan   karya  manusia  yang harus dibiasakannya dengan belajar beserta keseluruhan dari hasil budi  pekertinya.

A.L Krober dan  C.Kluckhon mengatakan, bahwa kebudayaan adalah  menifestasi atau  penjelmaan kerja jiwa  manusia dalam arti seluas-Iuasnya.

C.A.Van   Peursen   mengatakan,   bahwa  dewasa  ini kebudayaan     diartikan    sebagai manifestasi    kehidupan     setiap   orang,   dan   kehidupan     setiap   kelompok    orang-orang, berlainan    dengan   hewan-hewan,    maka  manusia   tidak  hidup  begitu  saja  ditengah   alam, melainkan    selalu  mengubah    alam.

Kroeber     dan   Klukhon    mcndctinisikan    kebudayaan;      kebudayaan     terdiri    at as berbagai    pola,  bertingkah    laku  mantap,   pikiran,   perasaan    dan  reaksi   yang  diperoleh dan   terutama     diturunkan     oleh  simbol-simbol    yang   menyusun    pencapaiannya     secara tersendiri      dari    kelompok-kelompok       manusia,    termasuk     didalamnya      oerwujudan benda-benda     materi,   pusat   esensi  kebudayaan     terdiri   at as  tradisi   dan   eita-cita   atau paham,   dan  terutama    keterikatan    terhadap    nilai-nilai, secara  praktis  bahwa  kebudayaan  merupakan  sistem nilai dan gagasan  utama  (Vital). Sistem   nilai  dan  gagasan   utama   itu  dihayati   benar-benar    oleh   para  pendukung kebudayaan yang bersangkutan dalam kurun waktu terentu, sehingga mendominasi keseluruhan kehidupan    para   pendukung    itu,  dalam   arti  mengarahkan    tingkah   laku   mereka   dalam masyarakatnya.   Dapat dikatakan  pula, bahwa sistem nilai dan gagasan  utama itu memberikan pola untuk bertingkah laku kepada masyarakatnya,atau dengan kat lain. memberi seperangkat model untuk bertingkah laku.

Sistem nilai dan gagasan utama sebagai hakekat kebudayaan terwujud dalam tiga sistem kebudayaan secara terperinci, yaitu sistem ideologi, sistem sosial dan sistem teknologi.

Sistem ideologi meliputi etika, norma, adat istiadat, peraturan hukum yang berfungsi sebagai pengarahan untuk sistem sosial dan berupa interpretasi operasional dari sistem nilai dan gagasan utama yang berlaku dalam masyarakat.

Sistem sosial meliputi hubungan dan kegiatan sosial di dalam rnasyarakat, baik yang terjalin didalam lingkungan kerabat, maupun yang terjadi dengan masyarakat lebih luas serta pemimpin-pemimpinnya. Pengendalian masyarakat dan pemimpin berkembang dengan nilai budaya dan gagasan utama yang berlaku.

Sistem teknologi meliputi segala perhatian serta penggunaannya. sesuai dengan nilai budaya yang berlaku. Dalam kebudayaan yang terutama agraris, misalnya dengan sendirinya sistem teknologi sesuai dengan keperluan pertanian.

 

.Kluckhohn di dalam karyanya berjudul Universal Categories of Culture mengemukakan,   bahwa ada tujuh unsur kebudayaan universal, yaitu :

1.      Sistem  Religi  (sistem  kepercayaan).

Merupakan   produk   manusia   sebagai  homo   religieus.   Manusia   yang  memiliki kecerdasan  pikiran  dan perasaan  luhur, tanggap  bahwa di atas kekuatan  dirinya  terdapat kekuatan  lain yang maha besar. Karena itu manusia  takut, sehingga  menyembahnya   dan lahirlah  kepercayaan   yang  sekarang  menjadi  agama.

 

2.      Sistem  organisasi  kemasyarakatan.

Merupakan produk dari manusia sebagai homo socius. Manusia sadar bahwa tubuhnya lemah, namun memiliki akal, maka disusunlah organisasi kemasyarakatan  dimana manusia bekerja  sama  untuk  meningkatkan  kesejahteraan  hidupnya.

 

3.      Sistem  pengetahuan.

Merupakan   produk  manusia  sebagai  homo  sapiens.  Pengetahuan   dapat  diperoleh dari pemikiran  sendiri, disamping  itu didapat juga dari orang lain. Kemampuan  manusia mengingat-    ingat apa yang telah diketahui  kemudian  menyampaikannya   kepada  orang lain melalui bahasa. menyebabkan  pengetahuan  menyebar  luas. Lebih-lebih  bila pengetahuan  itu dibukukan,  maka penyebarannya  dapat dilakukan  dari satu generasi  ke generasi  berikutnya.

 

4.      Sistem  mata  pencaharian  hidup  dan  sistem-sistem  ekonomi.

Merupakan produk manusia sebagai homo economicus menjadikan tingkat kehidupan manusia  secara  umum  terus  meningkat,

 

5.      Sistem  Teknologi  dan  Peralatan.

Merupakan  produk dari manusia  sebagai homo faber. Bersumber  dari pemikirarmya yang  eerdas   dan  dibantu   dengan  tangannya   yang  dapat  memegang   sesuatu   dengan erat,manusia  dapat membuat  dan mempergunakan  alat. Dengan alat-alat ciptaannya  itulah manusia  dapat  lebih mampu  meneukupi    kebutuhannya  daripada  binatang.

6.      Bahasa

Merupakan   produk  dari  manusia  sebagai  homo  longuens.  Bahasa  manusia  pada mulanya  diwujudkan  dalam  bentuk tanda  (kode) yang kemudian  disempumakan   dalam bentuk  bahasa  lisan,  dan  akhimya  menjadi  bentuk  bahasa  tulisan.

7.      Kesenian

Merupakan   hasil  dari  manusia  sebagai  homo  aestetieus.   Setelah  manusia   dapat mencukupi  kebutuhan  fisiknya, maka dibutuhkan  kebutuhan  psikisnya  untuk dipuaskan. Manusia  bukan  lagi semata-mata  memenuhi  kebutuhan  isi perut saja, mereka juga  perlu pandangan  mata  yang indah, suara yang merdu,  yang semuanya  dapat  dipenuhi  melalui kesenian,

 

3.    Hubungan Manusia dan Kebudayaan

          Secara sederhana kebudayaan adalah suatu obyek dari manusia dimana kebudayaan tersebut merupakan suatu hal dimana hal yang dilakukan oleh manusia secara sehari-hari.

            Dalam sosiologi manusia dan kebudayaan dinilai sebagai dwitunggal, maksudnya bahwa walaupun keduanya berbeda tetapi keduanya merupakan satu kesatuan. Manusia menciptakan kebudayaan, clan setclah kebudayaan itu tercipta maka kebudayaan mengatur hidup manusia agar sesuai dengannya. Tampak bahwa keduanya akhimya merupakan satu kesatuan.

4.    MIND MAP

 

5.    Kesimpulan

            Dariwacana di atas saya menyimpulkan bahwa kebudayaan dan manusia adalah hal yang saling berhubungan. Dimana manusia akan terikat oleh kebudayaan secara terus menerus dan bukanlah hal yang mungkin jika kebudayaan dan manusia harus di pisahkan.

            Seperti halnya contoh, acara pernikahan yang digelar secara adat istiadat, kebudayaan cara hidup orang desa dengan kota, kebudayaan berdasarkan hal agama, dan yang terlihat universal dimana kebudayaan manusia yang harus taat dan terikat pada peraturan.

 

6.    Referensi

            Makalah Kelompok 1 (Manusia dan Kebudayaan), 1KA32, Universitas Gunadarma

Friday, March 28, 2014

IBD : Manusia dan Keadilan

MANUSIA DAN KEADILAN

 

 

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhidOprClZrgRDtQkJi8HB2vufGnUmnWsXyIzGIclVc14E_vzAiaB1VXZus0vHsVGeR343o4_8PSewb6ShKY1t8RK7ykxhaf16iAStohalXBCnoyNfrqFhRCZnl0QlLkrbCRmDzVSgGb4_n/s1600/keadilan.jpg

 

1.     Pengertian Keadilan

Menurut Definisi Keadilan adalah kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai sesuatu hal, baik menyangkut benda atau orang. Dan adapun pendapat dari beberapa para ahli, sebagai berikut :

 

-          Keadilan menurut Aristoteles adalah kelayakan dalam tindakan manusia. Kelayakan diartikan sebagai titik tengah antara kedua ujung ekstrem yang terlalu banyak dan terlalu sedikit. Kedua ujung ekstrem ini menyangkut dua orang atau benda. Bila kedua orang tersebut mempunyai kesamaan dalam ukuran yang telah ditetapkan, maka masing-masing orang harus memperoleh benda atau hasil yang sama, kalau tidak sama, maka masing – masing orang akan menerima bagian yang tidak sama, sedangkan pelangggaran terjadap proporsi tersebut disebut tidak adil.

 

-          Keadilan oleh Plato diproyeksikan pada diri manusia sehingga yang dikatakan adil adalah orang yang mengendalikan diri dan perasaannya dikendalikan oleh akal.

 

-          Socrates memproyeksikan keadilan pada pemerintahan. Menurut Socrates, keadilan akan tercipta bilamana warga Negara sudah merasakan bahwa pemerintah sudah melakukan tugasnya dengan baik. Mengapa diproyeksikan kepada pemerintah ? sebab pemerintah adalah pimpinan pokok yang menentukan dinamika masyarakat.

 

-          Kong Hu Cu berpendapat bahwa keadilan terjadi apabila anak sebagai anak, bila ayah sebagai ayah, bila raja sebagai raja, masing-masing telah melaksanakan kewajibannya. Pendapat ini terbatas pada nilai-nilai tertentu yang sudah diyakini atau disepakati.

 

Dari semua definisi kita dapat simpulkan bahwa keadilan adalah suatu hal kebenaran, yang meliputi fakta-fakta dan pertimbangan tanpa memihak siapapun.

2.     KEADILAN SOSIAL

 

     Seperti pancasila yang bermaksud keadilan sosial adalah langkah yang menetukan untuk melaksanakan Indonesia yang adil dan makmur. Setiap manusia berhak untuk mendapatkan keadilan yang seadil-adilnya sesuai dengan kebijakannya masing-masing.

 

Untuk mewujudkan keadilan sosial itu, diperinci perbuatan dan sikap yang perlu dipupuk, yakni :

1. Perbuatan luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan                                       kegotongroyongan.

2. Sikap adil terhadap sesama, menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban serta  
    menghormati hak-hak orang lain.

3. Sikap suka memberi pertolongan kepada orang yang memerlukan

4. Sikap suka bekerja keras.

5. Sikap menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat untuk mencapai kemajuan dan kesejahteraan bersama.

 

Asas yang menuju dan terciptanya keadilan sosial itu akan dituangkan dalam berbagai langkah dan kegiatan, antara lain melalui delapan jalur pemerataan yaitu :

     1. Pemerataan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat banyak khususnya pangan, sandang  dan z
         perumahan.

     2. Pemerataan memperoleh pendidikan dan pelayanan kesehatan.

     3. Pemerataan pembagian pendapatan.

     4. Pemerataan kesempatan kerja.

     5. Pemerataan kesempatan berusaha.

     6. Pemerataan kesempatan berpartisipasi dalam pembangunan khususnya bagi generasi
         muda dan  kaum wanita.

     7. Pemerataan penyebaran pembangunan di seluruh wilayah tanah air.

     8. Pemerataan kesempatan memperoleh keadilan.

 

3.     BERBAGAI MACAM KEADILAN

  a)  Keadilan Legal atau Keadilan Moral

             Plato berpendapat bahwa keadilan dan hukum merupakan substansi rohani umum dari    
       masyarakat yang membuat dan menjaga kesatuannya. Dalam suatu masyarakat yang adil
       setiap orang menjalankan pekerjaan yang menurut sifat dasarnya paling cocok baginya   
       (Than man behind the gun). Pendapat Plato itu disebut keadilan moral, sedangkan Sunoto
       menyebutnya keadilan legal.

  b) Keadilan Distributif

Aristoles berpendapat bahwa keadilan akan terlaksana bilamana hal-hal yang sama
       diperlakukan secara sama dan hal-hal yang tidak sama secara tidak sama (justice is done
       when equals are treated equally).

  c)  Keadilan Komutatif

Keadilan ini bertujuan memelihara ketertiban masyarakat dan kesejahteraan umum. Bagi
        Aristoteles pengertian keadilan itu merupakan asas pertalian dan ketertiban dalam   
        masyarakat. Semua tindakan yang bercorak ujung ekstrim menjadikan ketidak adilan dan
        akan merusak atau bahkan menghancurkan pertalian dalam masyarakat.

 

4.     KEJUJURAN

 

Kejujuran atau jujur artinya apa yang dikatakan seseorang sesuai dengan hati nuraninya, apa yang dikatakannya sesuai dengan kenyataan yang ada. Sedang kenyataan yang ada itu adalah kenyataan yang benar-benar ada. Jujur juga berarti seseorang bersih hatinya dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama dan hukum. Untuk itu dituntut satu kata dan perbuatan-perbuatan yang berarti bahwa apa yang dikatakan harus sama dengan perbuatannya. Karena itu jujur juga menepati janji atau kesanggupan yang terlampir melalui kata-kata ataupun yang masih terkandung dalam nuraninya yang berupa kehendak, harapan dan niat.

 

Hakikat kejujuran dalam hal ini adalah hak yang telah tertetapkan, dan terhubung kepada Tuhan. Ia akan sampai kepada-Nya, sehingga balasannya akan didapatkan di dunia dan akhirat. Tuhan telah menjelaskan tentang orang-orang yang berbuat kebajikan, dan memuji mereka atas apa yang telah diperbuat, baik berupa keimanan, sedekah ataupun kesabaran. Bahwa mereka itu adalah orang-orang jujur dan benar. Dan pada hakekatnya jujur atau kejujuran dilandasi oleh kesadaran moral yang tinggi, kesadaran pengakuan akan adanya sama hak dan kewajiban, serta rasa takut terhadap kesalahan atau dosa.

 

5.     KECURANGAN

 

Kecurangan atau curang identik dengan ketidak jujuran atau tidak jujur, dan sama pula dengan licik, meskipun tidak serupa benar. Sudah tentu kecurangan sebagai lawan jujur.

Curang atau kecurangan artinya apa yang diinginkan tidak sesuai dengan hati nuraninya. Atau orang itu memang dari hatinya sudah berniat curang dengan maksud memperoleh keuntungan tanpa bertenaga dan usaha. Kecurangan menyebabkan manusia menjadi serakah, tamak, ingin menimbun kekayaan yang berlebihan dengan tujuan agar dianggap sebagai orang yang paling hebat, paling kaya dan senang bila masyarakat sekelilingnya hidup menderita.

 

Penyebab orang melakukan kecurangan, ditinjau dari hubungan manusia dengan alam sekitarnya ada empat aspek yaitu:

1.      Aspek ekonomi

2.      Aspek kebudayaan

3.      Aspek peradaban

4.      Aspek tenik

 

Apabila ke empat aspek tersebut dilaksanakan secara wajar, maka segalanya akan berjalan sesuai dengan norma-norma moral atau norma hukum, akan tetapi apabila manusia dalam hatinya telah digerogoti jiwa tamak, iri, dengki, maka manusia akan melakukan perbuatan yang melanggar norma tersebut dan jadilah kecurangan. Tentang baik dan buruk Pujowiyatno dalam bukunya "filsafat sana-sini" menjelaskan bahwa perbuatan yang sejenis dengan perbuatan curang, misalnya berbohong, menipu, merampas, memalsu dan lain-lain adalah sifat buruk. Lawan buruk sudah tentu baik. Baik buruk itu berhubungan dengan kelakuan manusia. Pada diri manusia seakan –akan ada perlawanan antara baik dan buruk.

 

6.     PERHITUNGAN ( HISAB ) dan PEMBALASAN

 

Dinegara kita ada suatu lembaga khusus yang menangani kejahatan yaitu POLISI, disini polisi akan menyelidiki, dan mengungkap berbagai macam kasus kejahatan yang di lakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, dan yang selanjutnya akan diserahkan kepengadilan untuk diproses menurut UUD.

 

Dalam islam kita kenal yaitu Yaumul hisab yaitu hari perhitungan segala amal dan perbuatan kita semasa hidup kita didunia. disini manusia yang telah meninggal akan di hitung semua amal baik dan buruknya jika amal baiknya lebih banyak maka iya akan masuk surga dan jika amal buruknya jauh lebih banyak maka akan masuk neraka. dan di neraka inilah segala perbuatan jahat manusia di dunia akan di balas sesuai dengan banyaknya kejahatan mereka didunia.

 

Maka dari itu kita sebagai manusia berbuatlah sebaik-baiknya melebihi perbuatan baik untuk diri kita sendiri, karna sekecil apapun perbuatan buruk yang kita pernah perbuat didunia ini, pasti akan ada perhitungan dan pembalasannya.

 

7.     PEMULIHAN NAMA BAIK

 

Nama baik merupakan tujuan utama orang hidup. Nama baik adalah nama yang tidak tercela. Setiap orang menajaga dengan hati-hati agar namanya baik. Lebih-lebih jika ia menjadi teladan bagi orang/tetangga disekitarnya adalah suatu kebanggaan batin yang tak ternilai harganya. Penjagaan nama baik erat hubungannya dengan tingkah laku atau perbuatan. Atau boleh dikatakan bama baik atau tidak baik ini adalah tingkah laku atau perbuatannya. Yang dimaksud dengan tingkah laku dan perbuatan itu, antara lain cara berbahasa, cara bergaul, sopan santun, disiplin pribadi, cara menghadapi orang, perbuatan-perbuatan yang dihalalkan agama dan sebagainya.

 

Pada hakekatnya pemulihan nama baik adalah kesadaran manusia akan segala kesalahannya bahwa apa yang diperbuatnya tidak sesuai dengan ukuran moral atau tidak sesuai dengan ahlak yang baik. Untuk memulihkan nama baik manusia harus tobat atau minta maaf. Tobat dan minta maaf tidak hanya dibibir, melainkan harus bertingkah laku yang sopan, ramah, berbuat darma dengan memberikan kebajikan dan pertolongan kepaa sesama hidup yang perlu ditolong dengan penuh kasih sayang , tanpa pamrin, takwa terhadap Tuhan dan mempunyai sikap rela, tawakal, jujur, adil dan budi luhur selalu dipupuk.

 

8.     PEMBALASAN

 

Pembalasan adalah suatu reaksi atas perbuatan orang lain. Reaksi itu dapat berupa perbuatan serupa, perbuatan yang seimbang, tingkah laku yang serupa, tingkah laku yang seimbang.

Dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang menyatakan bahwa Tuhan mengadakan pembalasan. Bagi yang bertakwa kepada Tuhan diberikan pembalasan, dan bagi yang mengingkari perintah Tuhan pun diberikan pembalasan yang seimbang, yaitu siksaan di neraka. Pembalasan disebabkan oleh adanya pergaulan. Pergaulan yang bersahabat mendapatkan pembalasan yang bersahabat. Sebaliknya, pergaulan yang penuh kecurigaan, menimbulkan pembalasan yang tidak bersahabat pula.

 

Pada dasarnya, manusia adalah makhluk moral dan makhluk sosial. Dalam bergaul, manusia harus mematuhi norma-norma untuk mewujudkan moral itu. Bila manusia bermuat amoral, lingkunganlah yang menyebabkannya. Perbuatan amoral pada hakekatnya adalah perbuatan yang melanggar hak dan kewajiban manusia lain. Oleh karena itu manusia tidak menghendaki hak dan kewajibannya dilanggar, maka manusia berusaha mempertahankan hak dan kewajibannya itu. Mempertahankan hak dan kewajiban itu adalah pembalasan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MIND MAP

 

 

 

SUMBER :
http://id.wikipedia.org/wiki/Keadilan

http://ti-cenatcenut.blogspot.com/2012/06/normal-0-false-false-false-en-us-x-none_01.html

http://arickanjass.blogspot.com/2012/06/manusia-dan-keadilan.html

http://surahmanarea.wordpress.com/2011/01/02/manusia-dan-keadilan/
http://helmyfajri.wordpress.com/2012/04/11/perhitungan-hisab-dan-pembalasan/

Seri Diktat Kuliah MKDU: Ilmu Budaya Dasar karya Widyo Nugroho dan Achmad Muchji, Universitas Gunadarma